Antara Amal Perbuatan Manusia dan Karunia Tuhan

Diposting pada: 2018-05-21, oleh : Fahmy Farid, Kategori: Pojok Kajian

 

مِنْ عَلاَمَةِ الاِعْتِمَادِ عَلَى العَمَلِ نُقْصَانُ الرَجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَلَلِ

 

“Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar pada amal-perbuatannya adalah, kurangnya rajâ’ (pengharapan atas rahmat Allah swt.) ketika melakukan perbuatan dosa” [Ibn `Athaillah-Al-Hikam]

 

Istilah al-`amal—sebagaimana terkandung dalam aproisme di atas—bermakna harakah al-jism aw al-qalb (gerak/laku tubuh atau hati). Dalam konteks ajaran Islam, seorang muslim disebut muslim saleh ketika perilaku tubuh dan jiwa manusia sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, ketika perilaku keduanya tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut, maka seorang muslim tersebut tengah melakukan perbuatan dosa. Adapun istilah ar-rajâ’ bermakna ta`alluq al-qalb bi husûlin mahbûbin fî al-mustaqbal (harapan yang bersemayam dalam hati agar tercapainya sesuatu yang dicintai di masa depan). Dalam konteks kesufian, ar-rajâ’ berarti harapan seseorang agar mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Allah swt.

 

Ditilik dari perspektif kesufian, amal-perbuatan manusia terbagi menjadi tiga macam, yakni perbuatan yang berkaitan dengan syarî`ah (aturan atau perundang-undangan), tharîqah (jalan), dan hqîqah (hakikat). Dalam kitab At-Ta`rîfât, Al-Jurjani memaknai syar’i sebagai al-bayân (penjelasan) dan al-idzhâr (penjelasan). Dengan demikian, syarî`ah berhubungan dengan aturan-aturan tingkah laku jasmaniah manusia yang harus diperbuat seorang muslim untuk merengkuh makna kesalehan religiositasnya, sesuai dengan penjelasan ajaran agama Islam. Adapun tharîqah dapat dipahami sebagai tèchne atau metode. Berpijak pada pemaknaan tersebut, tharîqah dalam konteks religiositas Islam berarti cara atau metode seorang muslim saleh dalam menjalankan aturan-aturan keagamaan. Sedangkan haqîqah merupakan derivasi dari kata haqq yang berarti kebenaran sejati. Dalam istilah filsafat, hakikat sering dimaknai sebagai das ding an sich (sesuatu dalam dirinya sendiri).

 

Tipologi amal-perbuatan manusia di atas berkaitan dengan struktur realitas manusia yang terdiri dari realitas tubuh, jiwa, dan roh yang tidak terpisahkan satu sama lain. Ketiganya dipertautkan oleh ide mendasar bahwa ajaran agama Islam yang disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad saw. mengajarkan manusia menjadi pribadi muslim yang saleh secara lahir maupun batin, yakni kesalehan religiositas yang menyangkut nilai-nilai kebaikan material dan spiritual manusia. Dalam hal ini, syari`ah berkaitan dengan proses penempaan realitas tubuh, tharîqah dengan proses penempaan realitas jiwa, serta haqîqah dengan penempaan realitas roh manusia. Ketiganya juga merepresentasikan ajaran agama yang berkaitan dengan persoalan Islam, iman dan ihsah, sebagaimana terkandung dalam hadits Nabi Muhammad saw:

 

Diriwayatkan sahabat `Umar—semoga Allah swt. melimpahkan rahmat kepadanya—dia berkata: suatu hari, ketika kami (para sahabat) sedang duduk di sekeliling Rasulullah saw. Tiba-tiba muncul seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tidak terlihat padanya tanda-tanda selepas melakukan perjalanan, juga tidak seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Lelaki tersebut segera duduk di hadapan Nabi saw. seraya meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi saw. kemudian ia berkata: Wahai Muhammad, beritahu aku tentang Islam! Rasulullah menjawab: Islam itu kesaksianmu bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa bulan Ramadhan, serta menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu! Lelaki itu berkata: Engkau benar! Kami heran kepadanya; bertanya tetapi setelah itu membenarkan jawaban Nabi saw. Ia bertanya kembali: Beritahu aku tentang Iman! Rasulullah menjawab: Iman itu meyakini Allah, para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk! Lelaki itu berkata: Engkau benar! Lelaki tersebut kembali bertanya: Beritahu aku tentang Ihsan! Rasulullah menjawab: Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jikapun engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. […]

 

Kemudian lelaki itu pergi. Aku terdiam beberapa saat. Setelah itu, Nabi saw. bertanya kepadaku: Hai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya tadi? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Kemudian Rasulullah berkata: Sesungguhnya dia adalah Jibril, datang kepada kalian yntuk mengajarkan tentang agama kalian.

(H.R. Muslim)

 

Berpijak pada uraian di atas, aprois Ibn `Athaillah dapat dipahami dalam kerangka tiga macam amal-perbuatan manusia tersebut, yakni tingkatan Islam, tingkatan iman, tingkatan ihsan.

 

Mengacu pada tafsiran Ibn `Ajibah dalam kitab Îqâdz al-Humum, seorang muslim yang berusaha merengkuh nilai-nilai kesalehan religios tidak sepatutnya bersandar pada dirinya sendiri, amal-perbuatannya, maupun daya dan upayanya sendiri. Dalam pengertian, kesalehan religios harus disandarkan pada harapan (rajâ’) seseorang agar mendapatkan rahmat, anugrah dan hidayah dari Allah swt. Sehingga, alih-alih memahami persoalan—misalnya—surga-neraka sebagai konsekuensi dari amal-perbuatan manusia, seorang muslim saleh lebih memahaminya sebagai karunia. Hal ini terilustrasikan dalam sebuah hadits Nabi saw:

 

Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, saya mendengar Rasulullah saw. berkara: Tidak akan masuk surga seseorang di antara kalian oleh sebab amal perbuatannya! Para sahabat bertanya: Termasuk engkau wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Termasuk saya, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.

[H.R. Bukhari-Muslim]

 

Hikmah yang diperas dari aprois Ibn `Athaillah tersebut mengilustrasikan bahwa hati seorang muslim saleh tidak pernah terputus dari harapannya terhadap rahmat dan karunia Allah swt. Karena seseorang yang bergantung—hanya—pada amal-perbuatan menunjukan keangkuhan dan arogansi kemanusiaannya. Konsekuensi lainnya, pengharapan tersebut sekaligus yang merawat kesadaran eksistensial seorang muslim saat dihadapkan pada situasi apapun di dunia, baik pada momen ketika melakukan kebajikan maupun dalam kondisi diliputi perbuatan dosa dan kesalahan.

 

Aprois Ibn `Athaillah memberikan sebuah ilustrasi bahwa, tanda-tanda seorang muslim yang bersandar hanya kepada Allah swt. terletak pada pengharapannya atas karunia dan rahmat Allah swt. yang tidak serta-merta berkurang oleh sebab terjerembab dalam perbuatan dosa dan kesalahan. Sebaliknya, pengharapan yang berupa pahala kebajikan tidak serta-merta bertambah karena merasa dirinya telah melakukan banyak kebajikan. Dalam ungkapan lain, rasa takut akan siksaan dalam diri seorang hamba tidak serta-merta bertambah besar ketika terjebak dalam perbuatan dosa dan lupa, sebagaimana rasa harapnya yang tidak bertambah banyak setelah melakukan amal kebajikan.

 

Seorang hamba saleh akan senantiasa menjaga suasana hatinya tetap bergumul di antara al-khauf (rasa takut) dan ar-rajâ’ (rasa harap), karena al-khauf muncul dari persaksian seorang hamba atas sifat Keagungan (al-Jalâl) Allah swt., sementara ar-rajâ’ muncul dari persaksiannya atas sifat Keindahan-Nya (al-Jamâl). Kedua sifat tersebut yang inhern dalam realitas ketuhanan tersebut menegaskan bahwa Allah swt. dapat dimaknai sebagai Realitas manifestal dari misteri yang menggetarkan (mysterium tremendum) sekaligus yang memesonakan (mysterium fascinans). Pada posisi dialektis semacam inilah, kita menemukan puncak etika seorang hamba saleh dalam religiositas Islam yang mengejawantah dalam akhlak mulia dalam diri manusia dan watak kemanusiaannya.

 


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id