Marhaban ya Syahr Ramadhan

Diposting pada: 2018-05-17, oleh : Fahmy Farid, Kategori: Pojok Kajian

Selain kewajiban berpuasa, bulan Ramadhan memiliki keistimewaannya tersendiri. Dalam sejarah perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam, banyak peristiwa penting terjadi di bulan tersebut, mulai dari peristiwa turunnya Al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi umat manusia, peristiwa Lailâh al-Qadr yang memiliki kualitas yang sama dengan nilai seribu bulan, peristiwa perang Badar, penaklukan kota Makah, penaklukan Andalusia, hancurnya berhala Latta dan Uzza, dan pelbagai peristiwa penting lainnya.

 

Keistimewaan bulan Ramadhan ditegaskan melalui Al-Qur’an dan Sunnah. Diantaranya firman Allah swt. dalam Al-Qur’an [Q.S. 2:185]:

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الذي أُنْزِلَ فِيْهِ القُرْآنُ هُدًا لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الهُدَى وَالفُرْقَانِ

 

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang benar dan yang salah) […].

 

Dalam tafsir Mafâtih al-Ghaib karya Fakhruddin Ar-Razi, terdapat perbedaan makna istilah شهر رمضان . Dalam perspektif Mujahid, شهر رمضان merupakan sebagian dari Nama-Nama Allah swt., sehingga ayat tersebut dapat juga dimaknai شهر الله (bulan Allah). Perspektif semacam ini mengacu pada hadits Nabi saw. yang artinya:

 

Janganlah kalian mengatakan: “Telah datang Ramadhan dan telah pergi Ramadhan”, tetapi katakanlah “telah datang bulan Ramadhan dan telah pergi bulan Ramadhan”. Karena sesungguhnya Ramadhan adalah sebagian dari Nama-Nama Allah swt.

 

Ramadhan sering pula dimaknai sebatas nama bagi salah satu bulan dalam kalender Hijriyyah, sebagaimana bulan Rajab dan Sya`ban.

           

Dalam konteks gramatika Arab, terdapat sekurangnya empat perspektif nuhât (ahli gramatika Arab) dalam memahami istilah Ramadhan. Mengacu pada penelitian Imam Khalil, sebagaimana dikutip Ar-Razi, رمضان merupakan istilah derivatif (turunan) dari kata الرمضاء (ar-Ramdha') yang bermakna ‘hujan yang datang sebelum datangnya musim gugur, meyirami serta membersihkan permukaan tanah dari debu-debu yang bertebaran’. Melalui perspektif semacam ini, bulan Ramadhan mengandung semangat upaya pembersihan tubuh dan jiwa manusia dari segala macam laku keburukan di dunia. Perspektif lainnya, istilah رمضان merupakan istilah derivatif (turunan) dari kata الرمض yang bermakna ‘panasnya bebatuan oleh sebab panas matahari yang sangat menyengat’. Melalui artikulasi semacam ini, Ramadhan dapat dimaknai sebagai bulan saat terbakarnya segala macam dosa manusia, sebagaimana mengacu pada sebuah hadits Nabi Muhammad saw: ‘Sesungguhnya dinamakan Ramadhan karena menjadi saat-saat ketika segala macam dosa hamba Allah terbakar’.

           

Terlepas dari persoalan gramatika di atas, Ramadhan merepresentasikan bulan yang penuh dengan nilai dan spirit kebaikan bagi manusia, baik kebaikan bagi tubuh maupun jiwanya, kebaikan individual maupun kebaikan sosial. Bahkan dalam ilustrasi Nabi saw., sebagaimana diriwayatkan At-Thabrani: ‘Seandainya umat muslim tahu kebaikan-kebaikan yang terkandung di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka berandai-andai bulan Ramadhan terjadi sepanjang tahun’. Karena dalam pelbagai keterangan dijelaskan bahwa sepertiga awal bulan Ramadhan mengandung spirit kasih sayang, sepertiga pertengahannya adalah pengampunan, dan sepertiga akhir bulan Ramadhan merepresentasikan semangat pembebasan. Marhaban yâ syahr Ramadhân.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id